Widya Ayunda profile icon
PlatinumPlatinum

Widya Ayunda, Indonesia

Kontributor
My Orders
Posts(18)
Replies(24)
Articles(0)

Parenting "Menyapih Tanpa Menipu" di ambil dari tulisan seseorang di wall fb. semoga bermanfaat 😊

Menyapih Tanpa Menipu. Sudah hampir dua minggu gadis kecilku tidur sendiri tanpa nenen dan kelonan. Ya, aku dan suami berhasil Menyapih anak kami tanpa menipunya, mengapa aku katakan menipu? Karena aku pernah mendengar dan membaca beberapa tips dari teman dan rekan yang Menyapih anak mereka dengan mengoleskan berbagai bahan pada payud4r4 yang membuat anak merasa pahit, asem, amis atau takut saat ingin menyusu. Mulai dari mengoleskan brotowali/sambiroto yang rasanya pahit, mengoleskan asam jawa yang rasanya asem dan tampak mengelikan, mengoleskan bau-bauan amis dan atau lipstick merah agar terlihat seperti berdarah dan membuat anak ketakutan. Naasnya setelah anak dipaksa berhenti nenen secara tiba-tiba, muncul beberapa keluhan seperti payud4r4 bengkak dan nyeri karena anak tak lagi nenen. Oleh karena itu, jauh sebelum aku menyapih anak, aku sudah merencanakan tahapan-tahapan agar proses menyapih berjalan lancar, sebulan sebelum menyapih aku membeli botol sedotan (sebelumnya anakku tidak minum sufor, terakhir ngedot untuk minum air putih diusia 10 bulan setelahnya anak minum menggunakan gelas atau sedotan) karena aku tidak mau nanti anakku tergantung sama botol dot dan sepertinya dia sudah enggan minum dengan dot. Setelah membeli botol sedotan (aku beli 2, satu untuk air mineral, satu untuk sufor) aku mulai memperkenalkan botol ini kepada anak, pada awalnya anak enggan menggunakan botol sedotan ini, dia lebih nyaman minum menggunakan gelas, tapi karena aku sering menyodorkan botol sedotan, lama kelamaan anak mulai terbiasa minum air mineral dengan botol sedotan. Selanjutnya aku mulai memberikan susu formula, aku membeli kemasan yang kecil untuk mengetahui apakah anak suka atau tidak, setelah cocok dengan salah satu merek susu formula aku mulai memberikan sufor 3 kali satu hari dan mulai mengurangi mengASIhi, anak hanya nenen saat akan tidur siang dan tidur malam, selebihnya jika haus disaat bukan jam sufor aku hanya memberikan air mineral, dan selalu aku katakan "kakak sudah besar, minumnya pakai botol aja ya". Seminggu sebelum menyapih, aku semakin sering mengatakan bahwa dia sudah besar, sudah gak boleh nenen hanya boleh minum susu dan air pakai botol sedotan atau gelas. Hari ketika menyapih, siang harinya anak berhasil tidur siang tanpa nenen, aku hanya mengelus punggung dan memijat-mijat kakinya. Ku pikir malam nanti juga akan sama mudahnya, tapi ternyata aku salah. Ketika anak mengantuk, dia mulai menangis dan ingin nenen, hingga larut malam anak tak kunjung tidur padahal sudah digendong oleh abinya. Akhirnya karena tak tega melihat anak merengek, akupun memgASIhi sambil terus berkata "kakak pintar, malam ini aja nenennya ya, besok gak boleh lagi". Keesokan harinya, seperti kemarin anak sangat mudah tidur siang. Setelah makan, minum susu, minum air mineral anak berbaring sambil nonton kemudian tertidur, malam harinya kembali terjadi drama merengek yang cukup membuat niat uminya hampir gagal, tapi kali ini tidak, aku dan abinya sudah sepakat untuk tidak ada nenen malam ini bagaimanapun kondisinya, ketika anak merengek aku hanya diam berbaring sambil tutup kuping (karena sedih juga sih, rasanya gimana gitu) anak digendong oleh abinya sambil ngiter dari ruang tamu sampai dapur, karena kelelahan menangis dan sudah mengantuk anak tertidur dalam gendongan abinya pada jam 12 malam, dan kami memutuskan anak tidur dengan abinya, sementara aku tidur di kasur yang berbeda, karena ketika dia terbangun untuk nenen, maka abinya akan mengelus punggung atau memijat kakinya hingga dia tidur lagi. Kami melewati malam dengan drama rengekan ini sekitar 3 hari dan 2 hari lainnya begadang menemani anak bermain sampai bosan, mengantuk dan dengan sendirinya naik ke tempat tidur dan tidur tanpa rengekan, hari berikutnya anak sudah terbiasa tidur tanpa nenen dan tanpa mengelus atau memijat, jam tidurnya pun kembali normal, jam 8 malam dia akan minta ditemani berbaring di tempat tidur, selanjutnya dia akan tertidur dengan sendirinya. Aku hanya memberikan sufor 3 kali satu hari, pagi setelah sarapan, siang setelah makan dan malam sehabis magrib, atau kadang ada tambahan satu kali saat malam ketika dia terbangun. Dan bersyukurnya aku tidak merasakan nyeri atau bengkak pada payud4r4 karena tiba-tiba berhenti mengASIhi. Jadi jika ingin menyapih, hal yang harus kita miliki adalah : 1. Niat yang kuat Karena kalau niat gak kuat, cobaannya banyak, susah untuk melanjutkan misi ini. 2. Tega Karena ketika anak nangis pingin nenen dan kita gak kasih itu rasanya sedih, lihat wajah polosnya nangis itu, hampir membuat niat yang kokoh jadi runtuh, memang harus sedikit tegaan. 3. Kesabaran Kita harus sabar meladeni apa yang diinginkan anak, mulai dari minta gendong, minum, minta berbaring, minta dikipasin, minta bermain sampai dia lelah dan mengantuk. 4. Kerja sama ayah dan ibu atau keluarga yang ada di rumah. Agar ibu gak patah semangat, ya diperlukan kerja sama satu sama lain, dan kadang anak itu udah paham bau tubuh ibunya, jadi pada saat menyapih, dengan kerendahan hati, mohon bantuannya ya para ayah. Sekian cerita bagaimana aku menyapih anakku, setiap ibu pasti tau bagaimana cara yang tepat menghadapi anaknya, dan setiap anak pasti memiliki respon yang berbeda-beda, tapi mungkin lebih baik jika kita tidak menipu atau membohongi anak pada saat akan menyapih. Percaya deh, rewelnya anak karena berhenti nenen itu paling lama 2 atau 3 hari, setelahnya dia akan terbiasa tanpa nenen. Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran perencanaan menyapih dan yang dalam proses menyapih diberi kemudahan dan kelancaran dengan cara masing-masing. Tulisan receh, semoga bermanfaat. Mohon bantuan untuk memperbaiki kesalahan dalam penulisan. Terimakasih.

Read more
 profile icon
Write a reply