Diana Stevani  profile icon
PlatinumPlatinum

Diana Stevani , Indonesia

Anggota VIP

About Diana Stevani

mom of 'lil man

Posts(2)Replies(11)Photos(0)

Menyusui tidak sepenuhnya NATURAL!

Mengingat hari-hari dimana saya pernah menyusui langsung! Ya Awal pertama menyusui langsung saya bilang kepada bayi saya yang bernama damar, saya bilang "yuk sama-sama belajar ya kita. Gpp kalau kita belum bisa khan ini sama2 hal pertama ya..." Tapi apa yang terjadi? Ini hanya berlangsung singkat karena puting sudah blister parah & kadang sampai berdarah. Menyusui sampai keringat dingin nahan sakitnya serius seigat itu saya sampai sekarang gimana perihnya. Padahal awal-awal itu damar butuh menyusu sangat sering bahkan pernah 7jam nonstop buka tutup terus. Hal ini buat saya merasa sekarang menyusui tidak benar-benar bisa hanya "secara natural", karena butuh informasi & literasi tentang menyusui sebelum melahirkan merupakan hal yang harus masuk dalam agenda. Efek kurangnya informasi & literasi tersebut menjadikan saya menyerah pada pompa & botol. Sedih? Banget. Padahal asi saya berkelimpahan sampai rembes bahkan menetes-netes kapan saja & sempat jadi donor asi. Saat sudah pulih mencoba lagi, lagi terus menerus & gagal. 1 subuh pernah berhasil 1x ntah bagaimana & bahagianya saya tak terungkapkan. Pagi pede mau menyusui kembali tapi seperti kembali ke titik NOL. Setelah sekian lama tidak pernah ada satupun dokter anak yang saya datangi mendiagnosa tongue tie juga lip tie damar sejak dini. Itu yang membuat damar kesulitan menyusu langsung & membuat blister parah pada saya. Ternyata tongue tie 30% terjadi pada anak laki-laki umumnya. Di usia damar 14 bulan baru diketemukan masalahnya setelah saya menjumpai dokter konselor laktasi karena saat makan damar juga jadi bermasalah, damar sulit mengelola makanannya karena sulit "goyang lidah" ini efek tongue tie damar dengan derajat yang bisa dibilang parah. Akhirnya kami putuskan damar di insisi tongue tienya, tapi bukan berarti langsung bisa ya setelah insisi perlu "senam" lidah beberapa minggu & penyesuaian memakai lidah "baru"nya. Sedangkan liptie kami menunda sambil mengobservasinya. Adakah yang pernah insisi baik lidah atau bibir atau bahkan keduanya? Lalu bagaimana dengan menyusuinya? Sekarang akhirnya saya menyusui langsung tetap ke corong pompa setiap hari karena sudah terlambat dilakukan relaktasi & saya harus cari strategi persiapan yang benar karena setiap subuh kebutuhan menyusu damar sangat tinggi bisa minimal 200ml bahkan lebih. Kalang kabut kalau sedang musim "paceklik". Damar bisa sampai nangis tapi gak mau dilepas pelukannya sementara itu kalau mau dapat susu ya harus dipompa khan benar-benar dilema. Lebih lagi saya kasian damar lagi tidur enak jadi nangis karena meminta hak dia yang belum tersedia. Cerita ini nyata saya alami, saya buat untuk pekan menyusui dunia & bulan menyusui di Indonesia. Pelajaran yang saya dapat harus perkaya diri dengan literasi bukan sekedar informasi. Semangat ya para busui, jika ada kesulitan segeralah mencari konselor laktasi! #pekanasisedunia #pekanASI #tonguetie #liptie #menyusui #pejuangASI #ingintahu #salingBerbagi

Read more
Menyusui tidak sepenuhnya NATURAL!
 profile icon
Write a reply

[KALA ITU]

4 Agustus 2019 Kala itu saya tidak berharap apapun, kala itu saya ragu untuk tes, kala itu saya juga tidak yakin dengan hasilnya. Kemudian sore hari pun dicoba lagi dengan testpack lainnya mulai dari keakuratan sensitifitas 25 mlU, 15 mlU sampai 10 mlU pun masih belum yakin sepenuhnya walau semua hasilnya garis dua tapi tetap bersukacita jika ini adalah benar Tuhan jawab kerinduan & air mata kami. Penasaran? Pastilah! jadi kami langsung jadwalkan ketemu dokter dan dokter belum mau berkata apapun sampai minggu-minggu berikutnya terus diperiksa berkala untuk memastikan kantung kehamilan, penebalan dinding rahim sampai denyut jantung janin. Dan akhirnya penantian itu menjadi awalnya saya benar hamil. Minggu demi minggu pun terlewati dengan baik dan di awal trisemester kedua dilakukan pemeriksaan adakah indikasi adhd serta kelengkapan organ dalam yang mulai terbentuk. Pemeriksaan ini dilakukan karena saya mengandung di usia saya "kematangan". Puji Tuhan hasilnya sejauh perjalanan ini aman. Berlanjut lagi sampai pada awal trisemester ketiga pemeriksaan berikutnya adalah kelengkapan pembentukan organ dalam serta  fungsinya, puji Tuhan semua diizinkan berfungsi & bertumbuh dengan sempurna & baik. Tinggal menanti waktu kelahiran dan itu sangat menyenangkan membayangkan bertemu langsung dengan bayi yang selalu bergerak sangat aktif & sering kali cegukan, banyak rencana kami untuk menyambut kelahiran. Namun kala itu keadaan, kondisi, situasi berkata lain beberapa hari PSBB dimulai dan pada 18 Maret 2020 dikehamilan 37minggu lebih beberapa hari saat pemeriksaan dokter menyatakan bayi aktif ini masih asyik dengan posisi melintangnya walaupun sudah siap untuk dilahirkan. Menimbang situasi kalau ditunggu beberapa minggu lagi dokter memprediksi kondisi sudah semakin kurang kondusif karena Covid-19 terus merajalela & posisi Rumah Sakit kami tepat sebelah wisma atlet pun sedang dalam persiapan. Maka kami harus segera menentukan tanggal dalam beberapa hari. Kami belajar tetap bersyukur & bersukacita walau rancangan kami sudah tidak lagi bisa seperti yang direncanakan. Kala itu akhirnya kami memutuskan 21 Maret 2020 kami siap untuk menyambut bayi kami, walaupun hanya ada satu pendamping yang diizinkan dan itupun tidak boleh ikut dalam ruang operasi. Sedih? Iya tapi harus tegar, takut juga iya tapi harus siap, bingung pun iya tapi harus yakin. Hanya bisa berserah, pasrah dan percaya Tuhan pasti akan turut bekerja & campur tangan dalam segala hal. Kala itu dan sampai detik ini tidak pernah kami berhenti bersyukur dengan kehadirannya dalam hidup kami, kami sepakat bekerjasama dengan hikmat yang selalu kami minta dari Tuhan untuk dapat merawat, mengasihi, membekali dengan penuh cinta dan keiklasan. #firstbaby #babyboy

Read more
[KALA ITU]
 profile icon
Write a reply