22810 merespon

Saat itu 2minggu sblm hpl. Aku chek up rutin ke dokter tanpa ada keluhan. Tpi bidan yg nge usg blg kalau aku polyhidramnion. Pdhl pada periksa² sebelum nya tidak ada diagnosa dan semua normal. Aku dirujuk ke rsud lanjut ke rsup. Saat di rsup hari senin, tensiku sudah naik ke 160/110 tpi aku gak pusing. Aku di perbolehkan pulang saat itu. Sabtu 28 Juli 2018 aku kembali ke igd rsup krna aku merasakan pusing ternyata tensi sudah ke angka 180/120. Dokter menyarankan untuk mondok. Singkat cerita senin aku di usg ulang untuk tindakan krna air ketubanku banyak, baby harus segera di lahirkan. Aku di pacu oral 1set (4x oral) dan tidak terjadi pembukaan. Lanjut ditambah 1set lagi dg dosis ditambah (total 8x oral) saat itu aku hanya mengiyakan krna aku berpikir itu yg terbaik. Djj selalu normal dan gerakan aktif. Sampai saat evaluasi pacu terakhir jam 12 siang hari rabu, evaluasi jam 6 sore detak jantung itu sudah tidak ada. Pdhl DJJ terakhir jam 5 dia masih normal. Jam 7 dokter menyatakan kalau anak ku meninggal. Bener² guncangan hati saat itu. Jam 9 malam hari rabu mulai pacu balon. Kamis pagi blm ada pembukaan sampai balon it di tarik. Dokter selalu menyarankan untuk aku lahiran normal meskipun baby sudah meninggal. Kamis siang aku mulai induksi sampai hari sabtu siang. Hingga tiba saat nya badan ini menggigil, muntah², dingin. Saat it aku mulai berontak untuk minta SC krna akurasa aku sudah gk kuat saat itu. Tpi dokter masih melarangku untuk SC dg dalih nanti haras nunggu kalau mau hamil lagi. Aku berontak, aku minta infus pacu nya di lepas. Dan akhirnya mereka memperbolehkanku SC. Dr siang aku menunggu antrian SC sampai jam 8 malam aku baru masuk kamar OP dg sepanjang jam aku menahan sakit nya pembukaan. Fyi, dr kamis sampai sabtu aku hanya pembukaan 4. Saat keluar dr ruangan SC tanpa sekalipun aku diperbolehkan melihat anak ku. Mereka bilang dy gemuk dia bayi lakilaki dg berat 4,3kg. Rambut lebat dan ikal. Bahagia selalu diSurga anakku. Doakan ayah, mama dan adik selalu sehat. Amin...
Baca lagi



