Rana Irdiansyah profile icon
PlatinumPlatinum

Rana Irdiansyah, Indonesia

Anggota VIP

About Rana Irdiansyah

a guidance counselor

My Orders
Posts(11)
Replies(283)
Articles(0)

Tanggapan Atas Curhat Bunda Yg Merasa Tersakiti Oleh Suami (Sharing)

Malam bunda2 saya ingin membahas ttg banyaknya curhat beberapa bunda yg merasa tersakiti oleh suami setelah menikah . Yg saya bahas disini adalah dari sudut pandang & pengalaman saya ya . Saya tidak akan membahas jika alasannya diluar post ini . Berdasarkan pengalaman & kebanyakan fakta yg saya lihat dari klien saya (tidak semua), sebetulnya banyak faktor yg membuat perempuan disakiti setelah menikah oleh suaminya, salah satunya adalah perempuan2 yg disakiti tsb sebenarnya sudah mempunyai 'feeling' gak sreg dgn calonnya selama pacaran atau sebelum menikah . Feeling ini TIDAK HANYA muncul ketika melihat perilaku buruk pasangan saja ya, tp pada saat terlihat bersikap baik pun kadang feeling itu muncul . Tapi yg namanya perempuan, lebih banyak mengabaikan 'feeling'nya tersebut atau istilahnya DENIAL . Kadang sudah muncul pikiran "Kok aku ga sreg ya sama dia? Knp ya padahal dia baik loh", eh ditutupi lgi dgn pembelaan, "ah itu cm prasangka buruk aja. Dia baik kok sayang kok buktinya sm aku." Itulah pentingnya mencari tahu bibit bebet bobot calon kita sebelum menikah . Atau ada juga yg sudah mempunyai feeling & mengetahui beberapa sifat buruk calon, tpi ada rasa nggak enak utk memutuskan hubungan krn faktor sudah lama pacaran, sudah dekat dgn ortu keluarga calon, sudah menghabiskan banyak biaya selama pacaran (ini real ada), yg paling klasik adalah alasan sudah terlanjur cinta & sayang, dan alasan2 lainnya . Yg akhirnya 'memaksa' diri untuk tetap menikahinya . Menurut saya, jodoh itu adalah seseorang yg bisa kita terima BAIK & BURUKNYA, dia bisa menutupi kekurangan kita dgn kelebihannya, begitu pula sebaliknya . Jadi klo dirasa dari sebelum menikah bunda tidak bisa menerima kekurangannya, lebih baik jangan diteruskan . Karena akan memicu bibit pertengkaran selama berumah tangga . Saran saya utk mbak2 yg mau menikah ( barangkali ada yg nyelip di aplikasi ini ), MOHON JANGAN ABAIKAN FEELING KALIAN . Pasti sebenarnya kalian menyadari suara hati yg terdalam, jika itu muncul mohon jgn ditolak . Didengarkan dulu setelahnya silakan mencari tahu apa yg membuat feeling kalian tidak sreg dgn pasangan . Jangan asal berpikir "ah ini prasangka buruk saja." Untuk bunda2 yg sudah terlanjur menikah, semoga bunda2 diberi kelapangan hati & kesabaran yg luas ya . Memang kita tidak bisa merubah sifat & kepribadian orang lain bun, yg bisa dilakukan hanya meminimalisir perilaku suami yg tidak cocok dgn kita, dengan syarat jika bunda MAMPU . Tapi jika memang usaha bunda sudah batasnya, Jangan meracuni diri sendiri karena bunda juga berhak bahagia ??

Read more
 profile icon
Write a reply

Pengalaman Melahirkan Jangan Egois (Sharing)

Malam bunda2, sekedar sharing cerita ttg melahirkan dialami kakak saya . Bukan bermaksud menceritakan keburukan saudara sendiri . Jadi kakak saya baru saja melahirkan bayi laki2 tgl 4 Oktober kemarin, Alhamdulillah ibu & anaknya sehat . Tapi ada cerita dibalik persalinannya yg menjadi reminder utk saya jg . Kakak saya dari sebelum melahirkan, sudah ngotot harus melahirkan normal & bisa ditanggung BPJS . Dia jg maunya lahiran di RS besar . Setahu saya kan memang BPJS utk lahiran normal hanya bisa di faskes 1 ya, bru klo ada keluhan atau kondisi tertentu bisa dirujuk ke RS besar . Tapi kakak saya tetap ngotot bahkan memaksa dokter obgyn nya yg di RS besar utk membuat rujukan ke faskes 1nya agar bisa lahiran di RS Besar . Akhirnya dibuatkanlah rujukan tsb krn kakak saya sampai nangis2 minta ke dokternya . Disitu dokter menuliskan kondisi kakak saya preeklamsia , pdhal sebetulnya tidak ada kondisi seperti itu, hanya kakinya bengkak saja . Jadilah surat rujukan tsb dan kakak saya sudah merasa tenang krn merasa yakin pasti lahiran normal ditanggung BPJS di RS Besar. Ternyata ketika mendekati HPL, hari kamis malam kakak saya dbawa ke RS krn ktnya kontraksi, stelah dicek baru pembukaan 1 . Dari RS disuruh pulang dlu tp kakak saya tidak mau . Akhirnya mulai kamis malam sudah rawat inap di RS . Trnyata sampai besok hari jumatnya, kakak saya tetap pembukaan 1, dicek trnyata tensinya 140/90 & ada protein di urin jg . Kaget lah kami, dokter bilang itu salah satu tanda preeklamsia . Saya jadi ingat surat rujukan yg dbuatkan dokternya dlu memang menuliskan kondisi preeklamsia, kok sekarang malah kejadian betulan . Dokter pun menyarankan utk SC tapi kakak saya tetap tidak mau krn ya dia ngotot maunya lahiran harus normal . Padahal kakak saya sudah diinduksi sampai 3 kali pun sudah tidak ngefek, sampai kecapekan sndiri dia tidur . Nah selama saya mendampingi kakak saya di ruang bersalin, ada ibu2 yg datang dgn kondisi hamil 9 bulan keluhannya sejak hari rabu janinnya tidak ada pergerakan . Trnyata benar stelah dicek, DJJ sudah tidak ada & bayinya dinyatakan meninggal . Bisa dibilang itu krn keegoisan dari ibunya yg tidak langsung bawa ke dokter ktika sudah merasa bayinya tidak aktif . Belum lama ibu itu keluar, masuk lagi seorang ibu2 hamil 9 bulan yg dipapah suaminya dan setelah dicek trnyata DJJnya jg tidak ada . Penyebabnya sama, ibu tsb tidak langsung bawa ke RS dgn alasan tanggung sbentar lgi HPL . Saya sm kakak saya pun diam dan kakak saya menangis jadi ketakutan sendiri melihat 2 pasien yg bayinya sama2 meninggal akibat keegoisan ibunya . Suaminya & ibu saya jg bilang "sudah di SC saja daripada anakmu kenapa2. Itu km sudah ditunjukkan 2 kejadian barusan krn keegoisan ibunya, anaknya korbannya. Kamu jg udah capek kan dari kemarin seperti ini" dan Alhamdulillah, akhirnya kakak saya pun luluh juga menuruti omongan mereka & mau di SC . Dan trnyata benar, kt dokter seandainya bayinya tidak segera di SC ada kemungkinan stillbirth krn preeklamsia itu tadi . Dari kejadian ini, saya mengambil pelajaran bahwa manusia memang boleh berencana tapi tetap Allah yg menentukan . Terkadang manusia membuat skenario sendiri tapi lupa melibatkan kuasa Allah didalamnya . Jangan sampai kita egois hanya krn ingin label "normal" tapi bisa membahayakan janinnya itu sendiri, padahal menurut saya pribadi mau normal atau SC toh sama2 berjuang utk anak kita, tetap kita adalah seorang ibu yg melahirkan anak, apapun jalannya . Maaf jika cerita saya panjang x lebar ? semoga ada hikmah positif yg bisa diambil dari cerita ini ya bunda ??

Read more
 profile icon
Write a reply