Abu Umar profile icon
PlatinumPlatinum

Abu Umar, Indonesia

Anggota VIP

About Abu Umar

Ayah Muda

My Orders
Posts(9)
Replies(130)
Articles(0)
 profile icon
Write a reply

Asal Muasal Tradisi 4 Bulanan, 7 Bulanan (Mitoni)

Bismillah... Mungkin ada diantara bunda yang bertanya-tanya dari mana asal muasal tradisi 4 bulanan, 7 bulanan tersebut? Harus dilakukan atau tidak? Apakah benar dari Islam? Mari kita kupas sedikit semoga bisa memberi pencerahan. Dan TOLONG dibaca hingga selesai. Jangan cuma sepotong. Kalo cuma sepotong mending jangan dilanjutkan bacanya, sampai sini saja. ? Oke next... Namanya saja TRADISI ya bun. Berarti berasal dari budaya (kebiasaan) masyarakat setempat. Selamatan kehamilan, seperti 4 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam ajaran Islam. Itu termasuk perkara baru dalam agama, dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.” (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah) Lalu berdosa tidak jika tradisi itu tidak dilakukan? Tentu saja TIDAK. Justru berdosa jika dilakukan karena tidak ada tuntunannya dalam Islam. Kalo bunda cari di Al-Quran maupun Hadist, tidak akan pernah ditemukan anjuran selametan seperti itu. Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan KEMUSYRIKAN. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu atas kehendak Allah Ta’ala semata. Semoga sampai sini bisa dipahami. Lalu kenapa tradisi tersebut seolah menjadi bagian dari agama islam? Atau sebaliknya, tradisi tersebut tidak lepas dari ibadah dalam agama Islam? Bunda tentu sudah pernah dengar istilah asimilasi dan akulturasi kan ketika belajar IPS di bangku sekolah? Nah itulah yang terjadi. ASIMILASI dan AKULTURASI: peleburan tradisi masyarakat dengan ajaran agama. Tahukah bunda dari mana asal muasal tradisi tersebut? Ternyata berasal dari ajaran HINDU yang sudah lebih dulu ada di Indonesia sebelum agama Islam masuk. Saya bicara berdasarkan fakta ya bun. Ada dalil, ada data. Barangkali ada kenalan atau saudara yang beragama Hindu bisa dikroscek sendiri. Dalam kitab MANAWA DHARMA SASTRA WEDA Smerti hal. 99, 192, 193 berbunyi: "Termasyurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu." Oke next ke sejarahnya... Sejarah tradisi ini berawal pada masa Prabu Jayabaya, waktu itu ada sepasang suami istri bernama Niken Satingkeb (makanya dikenal tradisi TINGKEBAN) dan Sadiya, mereka melahirkan anak sembilan kali namun tidak satupun yang hidup. Kemudian keduanya menghadap raja Kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya), mereka disarankan agar menjalankan beberapa ritual. Setelah itu Niken Satingkeb dapat hamil dan anaknya hidup. Akhirnya sejak saat itu apabila ada orang hamil apalagi hamil pertama dilakukan tingkeban atau mitoni. Tradisi ini merupakan langkah permohonan dalam bentuk selamatan. Kemudian setelah Islam masuk ke Indonesia, terjadilah percampuran. Yang namanya campuran berarti sudah TIDAK MURNI. Sama kaya emas, kalo bunda disuruh milih antara emas murni 24 karat atau emas campuran nikel dan perak, tentu bunda akan lebih memilih emas murni bukan? Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan tradisi yang sudah ada di masyarakat sejak turun temurun, sama sekali tidak. Tulisan ini hanya sekedar berusaha meluruskan ajaran Islam yang lurus, yang murni 24 karat seperti emas tadi. Karena sudah kewajiban sebagai sesama muslim untuk saling mengingatkan. Hindu punya Tuhan sendiri, dan mereka telah diberi tuntunan dalam menyembah Tuhannya. Begitu juga Islam. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umat beragama mengikuti tata cara ibadah yang sudah diajarkan oleh agama masing-masing. Islam yang Allah ajarkan melalui Rasul-Nya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sudahlah sempurna. Allah Ta’ala berfirman: "Telah aku sempurnakan agamamu, untukmu" (Al-Maidah: 3). Jadi tidak perlu ditambah-tambahi lagi. Ada dalil kerjakan, tidak ada dalil tinggalkan. Sekian dari Mr. Blue ? Referensi: konsultasisyariah.com hindudamai.blogspot.com

Read more
Asal Muasal Tradisi 4 Bulanan, 7 Bulanan (Mitoni)
 profile icon
Write a reply
 profile icon
Write a reply

Doa Memperoleh Keturunan Sesuai Al-Quran

Setiap orang yang telah berumah tangga, pasti menginginkan buah hati. Mungkin ada yang telah menanti bertahun-tahun, namun belum juga dikaruniai buah hati. Juga ada yang menginginkan agar anaknya menjadi sholeh. Maka perbanyaklah doa akan hal tersebut. Banyak doa yang telah dicontohkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Di antaranya ada doa yang berasal dari para Nabi Alaihimush sholaatu was salaam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berdoa: رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ "Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100). Nabi Ibrahim baru memperoleh keturunan setelah istri Beliau, Sarah berusia diatas 60 tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi. Betapa sabarnya nabi Ibrahim dalam berdoa kepada Allah. Begitupula nabi Zakariya Alaihissalam yang memiliki istri mandul. Beliau berdoa: رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ “Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa] (QS. Ali Imron: 38). Nabi Zakariya berdoa selama 70 tahun lamanya demi mendapatkan buah hati dari istrinya yang mandul. Beliau senantiasa berdoa kepada Allah dengan sabar dan istiqomah tanpa putus asa. Akhirnya Allah kasih dengan lahirnya nabi Yahya. Allah telah menurunkan kitab yang sempurna untuk agama Islam. Segala macam doa ada di dalamnya, jangan sampai mencari doa yang tidak ada tuntunannya. Apalagi sampai mendatangi dukun. Naudzubillah. Allah sudah ngasih petunjuk melalui kitab suci-Nya yang Agung dan melalui Rasul-Nya yang mulia. Tinggal kita contoh dan ikuti petunjuk yang sudah Allah kasih. Kuncinya adalah sabar. Sekelas nabi saja doanya puluhan tahun tanpa henti, kita yang bukan nabi baru berdoa satu dua tahun aja masa udah nyerah (?) Terus deketin Allah. Tingkatkan iman dan ibadah. Bangun di sepertiga malam terakhir tunaikan sholat tahajud dan panjatkan doa. Allah pasti kabulkan kalau kita yakin dan konsisten. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku KABULKAN. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku PENUHI. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808) Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Azza wa jalla. Bahkan hamil tanpa hubungan suami istri pun bisa jika Allah telah berkehendak seperti kisah Maryam dan anaknya Isa 'alaihis salaam. Semoga Allah mudahkan dan semoga tulisan kecil ini bermanfaat. ?

Read more
Doa Memperoleh Keturunan Sesuai Al-Quran
 profile icon
Write a reply