Vhely Suprapto profile icon
PlatinumPlatinum

Vhely Suprapto, Indonesia

Kontributor

About Vhely Suprapto

Mumsy of 1 sunny boy

Posts(10)
Replies(58)
Articles(0)
TapFluencer
Maaf, pernah punya bayi prematur Pak? Saya pernah punya bayi prematur dan ketika melihat penanganan penanganan kepada anak saya, saya merasa was was jika menggunakan inkubator di rumah. Dan selama anak saya di NICU, semuanya gratis total pakai bpjs. Sebaiknya untuk antisipasi, ketika hamil, cari RS yg mengcover biaya NICU/PICU. Khawatir jika ternyata melahirkan prematur... Ini saya copas dari dr. Agung Zentyo Wibowo (Lagi) Tentang Inkubator Rumahan Gratis Awalnya saya membahas hal ini karena melihat broadcast message, atau yang terkini adalah share yang menyebar di FB. Saya merasa perlu memberikan edukasi yang benar mengenai inkubator rumahan ini. Saya sangat mengapresiasi langkah Prof dan tim inkubator yang telah melakukan usaha untuk kesehatan bayi prematur Tentu cita-cita dan tujuan yang mulia, juga perlu dilalui dengan cara yang benar juga. Seiring berjalannya waktu, peminjaman inkubator gratis ini, kami melihat semakin menyimpang dari niat awal Prof untuk bisa membantu bayi prematur. Kenapa? karena penggunaannya sebagai inkubator rumahan. Inkubator bisa digunakan jika tepat indikasinya. Apa indikasinya? Nanti akan saya bahas lebih lanjut. Perlu kita pahami dulu, bahwa penggunaan inkubator hanya mengatasi masalah hipotermi/suhu badan anak yang rendah. Sedangkan masalah pada bayi prematur jauh lebih dari sekedar masalah suhu dan berat badan. Pada fase awal bayi prematur lahir, yang paling dikhawatirkan apakah bayi ini akan bisa bertahan “survive” atau tidak? Saya sering mendapat berita bayi yang terlahir prematur. Semakin kecil lahir, dan semakin awal lahir, tentu kesempatan bertahannya lebih kecil. Seringkali jika kasusnya berat, kami berdo’a dan rasanya deg-degan karena tahu tidak mudah untuk bisa bertahan, sekalipun sudah berada dalam NICU dan rumah sakit yang lengkap. Fase berikutnya yang penting dan berjalan simultan adalah skrining kesehatan. Bayi prematur wajib di skrining, paru-paru dan pencernaan (bisa dengan rontgen), Echo jantung, USG kepala, ROP untuk mata, OAE untuk telinga. Beberapa skrining di atas adalah yang paling umum dilakukan, dan bisa jadi ada tambahan yang lain sesuai kondisi bayi. Jadi bagi orang tua tentu perlu menaruh perhatian tentang hal ini sejak awal bayi prematur lahir. Lalai dan terlewat tidak melakukan skrining bisa berakibat buruk bagi kesehatan bayi. Banyak kondisi penyerta prematuritas yang harus dideteksi dan ditangani sedini mungkin untuk mendapatkan kesehatan yang terbaik bagi bayi. Lalu bagaimana dengan inkubator rumahan? Pada fase awal, dimana bayi sedang harus survive, seringkali dibutuhkan alat bantu/mesin untuk pernafasan, bisa CPAP atau Ventilator. Paling minimal adalah pemberian oksigen. Hati-hati, ketiga hal ini tidak bisa dilakukan sembarangan, karena sangat kompleks dan salah tindakan justru bisa berbahaya bagi bayi. Misal, terlalu kelebihan oksigen bisa menyebabkan resiko ROP yang berakibat kebutaan meningkat. Inkubator rumahan jelas tidak ada CPAP apalagi ventilator, maka kalau kondisi bayi belum stabil, lalu karena ada info inkubator rumahan orang tua memutuskan pulang paksa, kita hanya bisa berdo’a saja. Secara kebutuhan bayi sudah pasti tidak terpenuhi. Lalu kalau ada oksigen? Jangan main-main dengan hal ini. Kelebihan atau kekurangan sama-sama punya dampak buruk. Fase skrining, ini juga yang kami khawatirkan. Kalau sudah dibawa ke rumah, lalu tidak ada pengawasan dari tim medis, sangat besar kemungkinan bayi tidak menjalani skrining yang seharusnya wajib. Apa yang terburuk? Dari semua skrining tadi, yang paling berbahaya adalah ROP karena bisa berakibat kepada kebutaan permanen. Kondisi organ yang lain pun tidak akan bisa diketahui kalau tidak di skrining. Singkatnya, penggunaan inkubator pun ada indikasinya. Yaitu di rumah sakit atau fasilitas kesehatan dimana ada tenaga medis, atau, hanya di rumah jika tidak ada fasilitas kesehatan yang bisa dijangkau, karena sangat pelosok. Pun, WHO telah menetapkan langkah-langkah untuk wilayah dengan keterbatasan seperti ini, salah satunya adalah dengan metode PMK/perawatan metode kangguru, yang secara ilmiah dan berbagai penelitian telah terbukti bermanfaat, jika dibandingkan inkubator. Maka apa peran inkubator rumahan? Untuk ibu yang tidak bisa bergantian (tidak ada keluarga yang lain sama sekali) melakukan PMK, inkubator rumahan bisa membantu saat ibu ingin istirahat. Kenyataannya? Inkubator rumahan ini digunakan juga pada kasus yang tidak perlu dan tidak tepat. Masih ada anggota keluarga lain untuk PMK, masih dekat dengan puskesmas, RS, bahkan RS yang memiliki NICU pun ada. Lalu kenapa tidak mengusahakan yang lebih baik dulu untuk kesehatan anak? Sangat miris jika melihat info inkubator rumahan ini di share banyak orang. Tidak hanya puluhan, ratusan lho yang share, tapi hingga 14 ribu an share! Bayangkan betapa banyak yang bisa salah kaprah mengenai penggunaan inkubator yang tidak tepat ini. Nah, tugas kami dari komunitas untuk menyampaikan edukasi yang benar. Masalah jumlah NICU yang kurang, itu juga menjadi kepedulian dari komunitas agar pemerintah yang berwenang menaruh perhatian khusus pada masalah ini. Saya tidak mempermasalahkan jika akhirnya inkubator gratis dari Prof akhirnya dimanfaatkan di RS, puskesmas, dan sarana kesehatan lainnya dengan bayi prematur tetap dalam perawatan tim medis dan juga menggunakan PMK. Bukan kualitas alatnya (build quality) yang kami permasalahkan, tapi masalah tepat tidaknya indikasi menggunakan inkubator meskipun di wilayah yang terbatas fasilitas, sedangkan orang sangat jarang mengetahui PMK yang jauh lebih unggul. https://m.facebook.com/groups/1821938564698316?view=permalink&id=1969264359965735
Read more
 profile icon
Write a reply