Ibu tidak bisa apa apa, Tapi Ibu selalu ada dalam situasi apapun #ibujuara
Saya menikah tahun 2018, tahun 2020 ini saya hamil anak pertama. Ada yang bilang bayi kami bayi tabung, karena memang kami awalnya tidak merencanakan punya anak sampai tabungan kita cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi Tuhan berkehendak lain, tanpa terencanakan saya di beri Rezeki yang sesungguhnya. Walaupun kami tidak merencanakan promil, tapi setelah saya hamil saya dan suami sangat menyayangi dan menantikan kelahirannya. Awalnya saya iseng untuk testpack sendiri malam malam saat ditempat kerja, kebetulan saya seorang analis Lab, ternyata hasilnya Positif. Orang yg pertama saya kabarin adalah ayah dan mertua di rumah. Setelah pulang kerja saya baru memberitahu suami, walaupun pada awalnya suami menanyakan, kapan kita berhubungan? kok bisa? karena memang dari sebelum puasa sampai seminggu setelah lebaran kita tidak melakukan apapun. saya terlalu sibuk bekerja sampai lupa kalo ternyata haid saya sudah telat. Namun walau begitu suami saya ternyata lebih antusias dalam support sistem 1000 hari kehidupan bayi kami. Dia mulai cari tahu tentang perkembangan janin dengan mendownload aplikasi the asianparent. Lalu suami membelikan supplement terbaik untuk ku dan janin. Lalu suami membelikan semua makanan yang menurut yang dia cari tahu itu baik untuk perkembangan janin dan kesehatan ibu, seperti kurma, susu dan olahan susu,kacang kedelai,bayam,buah buahan dan lain lain. Kami mencoba datang ke bidan untuk mengetahui usia kandunganku, setelah usia kehamilan 10 minggu barulah kami datang ke dokter Obgyn untuk USG. Saya hamil di masa pandemik sehingga kemanapun saya pergi suami mengantarkan saya karena kerja nya diliburkan.Saat beliau antusias untuk menemani USG pertama, ternyata suami tidak diizinkan masuk ke ruangan. Saya masuk ke ruang obgyn sendiri. Saya tentunya berharap dapat melihat adanya kantung rahim dan adanya janin di dalamnya. Alhamdulillah ternyata ada dan saya bahagia, namun yang membuat saya sedih ternyata ada MIOM dijalan lahir. dokter mengatakan kalo semakin membesar akan mengganggu jalan lahir dan kemungkinan buruknya janin tidak dapat berkembang dengan baik. Hati seorang wanita mana yang tak tersayat hatinya mendengar hal seperti itu. keluar ruangan saya menangis dan menceritakan pada suami. Suami saya paling tahu siapa saya, wanita yang hanya bisa menangis tanpa punya rasa tenang. Hal itu yang membuat suami kesal dan memarahi saya untuk tetap tenang dan berhenti menangis. Akhirnya saya di suruh suami untuk memakan tomat setiap hari, beliau yang setiap hari membersihkan dan memotongkan tomat ditambah madu untuk saya. setiap hari makanan dan pola makan saya diatur oleh suami, tak jarang saya menangis karena tertekan dengan keadaan di kala itu. Obat sakit saya kala itu dengan cara video call ibu, saya bisa menceritakan semuanya dan merasa lebih tenang saat bisa sharing dengan ibu. Ibu meyakinkan saya dan puasa untuk saya agar saya bisa sehat secara jasmani dan rohani. Sebulan kemudian kami mendatangi RSIA lain dengan dokter Obgyn yang menurut suami terbaik di Kota Bandung. Setelah di USG kedua kalinya hasilnya tidak ada MIOM, saya dan suami kurang paham mengapa bisa dokter tidak menemukan miom, apa karena memang tidak ada,hilang atau hal yang wajar terjadi di awal trimester pertama jika ada otot yang meregang sehingga terlihat seperti miom, yang jelas kami merasa lega kala itu. Seminggu setelah USG di lingkungan rumah bahkan di rumah kami orang orang terkena chikungunya, begitupun dengan saya. Hamil di trimester pertama selain mual muntah saya harus merasakan demam tinggi juga sakit tulang dan sulit jalan karena chikungunya, ditambah tidak ada keluarga yang bisa membantu saya, karena mertua,suami keponakan dan adik ipar dirumahpun terkena chikungunya. Entah cobaan apa lagi yang saya pikirkan di kala itu. Karena masa pandemik, rumah sakit memasuki saya ke IGD dengan keluhan yang khusus demam tinggi. Namun karena dari keluhannya bukan mengarah covid 19 akhirnya saya di suruh pulang saja menimbang sedang banyaknya pasien covid. Dua hari saya meliburkan diri dari tempat kerja untuk bed rest total. Saya tidak bisa berlama-lama untuk tidak masuk kerja, karena di masa pandemik ini kita harus bergantian WFH dengan analis lain. Ibu mertua saya yang terkena chikungunya pun harus ikut membantu pekerjaan rumah dengan saya, mengingat saya sakit harus tetap kerja dan sedang hamil trimester pertama. Ibu mertua membantu saya masak karena saya tak bisa mencium aroma masakan. Di masa pandemik pasien di lab klinik tempat saya bekerja semakin banyak, sedangkan analis terbatas satu shift satu orang, tak jarang saya telat makan dan pulang telat. Masuk jam setengah 6 pagi pulang jam 6 magrib, Karena banyaknya pasien dan saya sendiri di lab kadang bulak balik dari lantai 3 ke lantai 1 untuk sampling darah. Entah apa yang membuat saya kuat dengan kondisi tersebut, pagi sebelum kerja saya mual muntah, ditempat kerja makan telat, ditambah sakit punggung di trimester pertama. Memasuki trimester dua karena banyaknya kerjaan, terkadang saya dan suami makan diluar, setelah itu badan terasa lemas dan juga masih suka muntah di tempat makan. Memasuki trimester ke tiga tepatnya di usia kehamilan 7 bulan maju 8 bulan saya di kabari ibu kalo ayah sakit. saya yang tak mungkin pulang ke rumah orang tua saya saat itu tak tahu apa yang harus saya lakukan, dengan kondisi saya sakit sakitan saat hamil, lalu pandemik, zona merah di daerah orangtua saya, membuat saya semakin depresi. support sistem suami mulai kurang menghadapi saya yang sedang depresi saat itu. Namun karena ibu saya dirumah meminta tolong untuk saya datang akhirnya kami datang kesana. Keadaan disana ayah di tolak RS karena penuh dan banyak yang positif Covid. Ayah kami rawat dirumah, saya infus dan saya belikan nebulizer karena kala itu ayah bronkhitis, belum lagi ayah asam uratnya kambuh sehingga tidak bisa berjalan. Ibuku yang menyeka dan menuntuntun ayah untuk ke kamar mandi. Melihat ibu tidak bisa istirahat karena ayah minum makan disiapkan dan di siapin ibu, akhirnya saya cuti duluan. Menimbang kala itu sudah dua minggu lebih saya bekerja di bandung lalu sorenya pulang ke cimahi, sedangkan kondisi saya yang lemah dan pekerjaan yang semakin banyak membuat saya pulang ke cimahi telat (terlalu sore). Sebulan lebih saya rawat ayah, setelah itu saya dijemput suami pulang ke rumah mengingat HPL sudah dekat dan saya belum periksa lagi ke dokter Obgyn. Saya rasa saya disana juga malah merepotkan ibu, karena ibu pun harus menyiapkan makan untuk ayah yang sedang pemulihan dan untuk saya yang kala itu radang gusi. t Tepatnya kemarin tanggal 19 desember saya pulang dan USG kembali. Tanpa terasa usia kehamilan saya 36 week, Alhamdulillah si boy (panggilan calon bayiku) sehat, plasenta tidak menghalangi jalan lahir, air ketuban cukup, posisi kepala dibawah, mudah mudahan persalinan nya lancar dan normal. Doakan semoga saya dan boy selamat dan sehat ya bun. Saya belum bisa jadi ibu yang baik untuk anak saya ini, Tapi semoga dia menjadi anak sehat,cerdas,shaleh. Saya harap di 1000 hari kehidupannya saya bisa memenuhi kebutuhannya dan bisa memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembangnya. #Ibu juara
Read more



