Sesederhana Menyusui Part 1

Sesederhana Menyusui Part 1: ASIku Banyak! Bayiku lahir secara spontan, dengan bantuan induksi "augmentasi" karena jalan lahir yang kurang lunak. Dia lahir melalui pintu yang dibuka dengan sengaja oleh dokter, karena mamanya tidak kuat lagi mengejan. Bayiku lahir tidak langsung menangis. Kata papanya, mukanya biru dan matanya terbuka. Dibantu bidan-bidan yang handal, Alhamdulillah kudengar suaranya menangis lemah. Pelan aku bertanya, "apakah saya bisa minta diajarin menyusu?" Bidan di sana menjawab, "nanti ya Bu, dedeknya harus dioksigen dulu." Aku tidak merasakan IMD, karena bayiku harus menghirup oksigen selama 4 jam dahulu. Akhirnya aku istirahat sendirian, sambil menanti tidak sabar untuk menyusui anakku. "Dek, makasih ya. Mas lihat perjuangan ade melahirkan. Ade mau apapun, selama Mas bisa kasih, insyaAllah Mas usahakan." "Apapun?" "Apapun." "Makasih, mas. Nanti mama tagih ya.." "Mama? Engga jadi Umi?" "Engga. Maunya dipanggil Mama. Permintaan pertama nih." "Okedeh sayang..." Tersenyum, aku memejamkan mata sembari menanti mungilku diantar ke pelukanku. Empat jam kemudian bayiku diantar bidan, diletakkan di sampingku. "Apakah saya boleh minta diajari menyusui sekarang?" Tanyaku pada bidan tersebut. "Besok saja ya, Bu. Sekarang Ibu istirahat dulu saja, takutnya jahitannya terbuka. Dedeknya masih ada cadangan makanan dari rahim kok untuk 3 hari." Kuturuti kata bidan tersebut, dan beristirahatlah aku, memeluk pelan manusia mungil yang baru beberapa jam yang lalu masih menendangku dari dalam perut. Beberapa kali matanya terbuka lebar, menatap kekosongan langit-langit kamar inap. Kuelus lembut rambut lebatnya yang tertutup topi. Perlahan dia menutup matanya, kembali lelap. Indahnya... Inikah anakku? Tak sabar ku menunggu hari esok, tak sabar aku ingin menyusuinya. Esoknya setelah dimandikan bidan, anakku dikembalikan padaku. Lagi-lagi kutanyakan kembali ke bidan, apakah aku bisa menyusui bayiku sekarang. Akhirnya permintaanku dikabulkan. Melihat mulut mungilnya bergerak mencari sumber makanannya, lucu sekali... Hisapan pertamanya, sungguh ingatan yang tak tergantikan. Seperti potongan puzzle yang disatukan, dia menempel padaku dengan begitu pasnya. Siapa yang mengajarimu, Nak? Kutahan rasa haru dan air mataku. "Bu bidan, apakah ASI saya keluar?" "Keluar kok, Bu," jawab bidan tersebut sambil menekan aerola payudara yang tidak diminum bayiku,"tuh kan keluar. Pokoknya Ibu jangan berpikiran kalau ASI ibu sedikit ya. Anaknya disusui saja terus, percaya bahwa produksi ASI akan mengikuti kebutuhan bayi." "Baik Bu Bidan, terima kasih." Kulanjutkan menyusui anakku sampai dia melepasnya sendiri. Kulanjutkan rutinitas tersebut di rumah, begadang, puting lecet dan berdarah, jahitan nyeri, tangan kebas, punggung kaku, sensasi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan menyusui bayi mungilku, yang jika kutinggal sebentar saja kini sudah tau caranya mencari puting. Lucu sekali. Ah, lagi-lagi aku ingin menangis haru. Hari kedua di rumah, aku masih saja menyusui bayiku nonstop, seolah dia tidak pernah kenyang. Baru kuletakkan sebentar, dia sudah mencariku lagi. Sampai-sampai makan pun kulakukan sambil menyusui. Ibuku yang kasian melihatku kepayahan pun mulai berkomentar, "udah dong dek ngempengnya. Minum apa kamu, orang susu mamamu kempes gitu. Kasian mamamu mau makan aja masih harus nyusuin." "Ada kok susunya!" Dengan tak sabar kusahut celetukan ibuku yang menyakitkan itu. "Kata bu bidan ASI produksinya sesuai kebutuhan bayi. Waktu dipencet juga keluar kok ASInya." "Biasanya kalau susunya banyak gak lembek kayak gini, ga ada isinya ini mah. Tuh," lanjut ibuku sambil menekan-nekan payudaraku, "lembek gini." "Udahlah, Bu. Biarin aja namanya anak bayi baru lahir pengen nyusu. Aku denger kok suara dia minum." "Yauda kalau gitu. Ibu kasian aja kalau dia kurang kenyang, kasian kamu juga jadi susah ngapa-ngapain." Malam hari ketika aku masih terjaga setelah menyusui, aku keluar kamar untuk mengambil camilan dan minum. Ibuku terbangun, kemudian menghampiriku dan bertanya "ga rewel ya anakmu?" "Iya Bu Alhamdulillah. Baru bunyi dikit udah aku susuin, jadi ga sempet rewel." "Ga ngantuk kamu begadang?" "Ngantuk sih, gapapa lah." "Kalau capek beli susu formula aja lah, dikasih buat kalau malam aja gitu. Disendokin. Susumu lembek gitu ga kenyang dia." Ya Allah, kenapa ibuku jahat sekali. Aku tahu mungkin dia khawatir padaku, tapi untuk aku yang baru saja melahirkan, kata-kata itu sangat menyakitkan. "Enggak. Aku gak papa bu." "Yauda besok suruh masmu beli daun katuk biar banyak susunya." "Ya, bu." Sungguh, kapan ibuku akan percaya kalau ASIku cukup? Apa harus menunggu sampai payudaraku keras? Keras yang seperti apa? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku mendengar suara anakku menelan susu. Yang aku tahu dia selalu pipis dan buang air besar dengan baik. Tapi tetap saja, sekuat apapun keyakinanku, tetap saja aku rapuh. Aku menangis. Sempat aku tak mau menyusui anakku. Aku sembunyi di dalam selimut, membiarkan ibuku memandikan anakku. Anakku menangis kencang, tapi aku tidak langsung menggendongnya maupun menyusuinya. Aku takut ASIku tidak membuatnya kenyang. Aku takut dia tidak diam saat kususui, yang mungkin akan membuat ibuku berkomentar lagi. Selesai memakaikan baju, aku suruh semua orang keluar dari kamar. Kututup kamar. Sambil menangis sesenggukan, kususui anakku. Dan dia diam, minum dengan lahapnya, sampai akhirnya ketiduran dalam pelukanku. Tapi masih saja aku mengurung diri. Aku tidak berani keluar kamar. Suamiku mengetuk masuk, mengelus-elus kepalaku. "Sabar ya, dek. Mau mas beliin sufor?" Mendengar tawarannya, tangisku semakin kencang. "Bu-kan- ih-tuuuhuuu..." Terbata-bata, di sela-sela senggukku, kujelaskan bahwa aku hanya ingin supportnya. Kemudian, dia kusuruh keluar kamar dan membiarkanku istirahat. Setelah meletakkan anakku yang tertidur, kuraih smart phone yang jarang sekali kugunakan pasca melahirkan. Kuketik topik tentang ASI, payudara lembek, anak menyusu tanpa henti, apapun yang bisa membuatku yakin bahwa aku benar, atau mungkin memang ibuku benar. Syukurlah, internet berpihak padaku. Aku pun bisa keluar dengan bangga, lalu kuhampiri ibu yang sedang menyeterika bajuku dan baju anakku. "Bu, ini lo, dikasih tau, memang begitu bayi baru lahir. Namanya growth spurts. Minum ASI gampang kenyang gampang laper juga. Payudara lembek bukan berarti ga ada isinya juga." Dan teori-teori lainnya yang mengatakan bahwa, ASIku cukup! "Yauda kalau gitu. Tapi tetep dimakan itu daun katuknya, udah Ibu masakin." "Yaa...." Setidaknya kini aku lebih ceria dan percaya diri dalam menyusui anakku. Sore harinya, aku bingung karena baju anakku basah. "Bu, anaknya ngompol." "Wah padahal baru ganti popok. Coba sini." Setelah dicek, ternyata popoknya kering. "Loh, terus ini basah-basah apa?" Subhanallah. Ternyata itu basah ASIku yang keluar dari payudara yang tidak kususui. Sejak itu, kurasakan apa yang dinamakan payudara keras, dan hal itu sama sekali bukan hal yang nyaman. Tapi setidaknya, hal itu bisa membuat Ibuku tidak berkomentar lagi tentang ASIku. "Tuh, bu, lihat bu keluar banyak!" Pamerku menunjukkan ASI yang kutampung dalam cangkir. Hampir setengah cangkir terisi. Bangga, di hari ketiga aku diizinkan untuk bahagia dengan keyakinan bahwa aku bisa mencukupi kebutuhan anakku. -bersambung ke Part 2: Anakku Kuning- Link:

2 Tanggapan
undefined profile icon
Tulis tanggapan

Iya... Yang penting kekeuh bun buat ngASI Aku juga awalnya dikit banget, sempet sufor malah, anakku keburu kuning, sementara dia belum bisa mimik langsung krn masih rawat nicu, terpaksa deh sufor 3 hari ajah

6y ago

Makasih ya mom udah baca dan komen hehe sehat2 selalu utk mommy and baby ❤❤

Aku baca loh sampai akhir terharu semangat bunda harus bahagia jangan stress 🤗

6y ago

Makasih bundaa, bunda dan debay juga yaa bahagia selalu dan sehat2 selalu. Mudah2an nanti bisa lancar mengASIhinya 🤗❤ Makasih sudah mau baca panjang2 hehe. Tunggu cerita selanjutnya ya bundaa, part 2 nya sedang diketik 😁😘